Perbedaan penetapan Hari Raya di Indonesia.
Pagi tadi aku menyempatkan waktu sejenak untuk menyimak acara di salah satu Televisi Nasional, yang menyampaikan berita, bahwa hari raya Idhul Adha tahun 2015 adalah sebagai berikut :
1. Pemerintah menetapkan hari raya Idhul Adha jatuh pada tanggal 24 September 2015.
2. Muhammadiyah menetapkan hari raya Idhul Adha jatuh pada tanggal 23 September 2015.
Lalu aku teringat salah satu ayat di dalam Al Qur'an yang artinya kurang lebih sebagai berikut :
"Hai orang-oarang yang beriman, taatlah kepada Alloh, kepada Rosul dan kepada pemimpin di antara kamu.".
"dan kalau ada perbedaan atau selisih paham, kembalikanlah segala urusan kepada Kitab Al Qur'an dan Sunnah Rosul"
Dengan membaca dua referensi di atas, sesungguhnya sudah sangat jelas, dan seharusnya di antara orang-orang yang beriman itu tidak ada lagi perbedaan pendapat. Karena kalau terjadi perbedaan dalam segala hal, cukup kita kembalikan segala urusan kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosul.
Lalu mengapa perbedaan itu selalu terjadi ?
Padahal sudah sangat jelas dalilnya .
Lalu apa yang menyebabkan di antara ummat selalu terjadi perbedaan ?
Jawabannya sangat gampang, yaitu : karena setan tidak akan ridho dengan segala ketenangan yang ada di antara manusia, setan senantiasa menggoda dan membisikkan kata-kata nafsu ke dalam dada manusia, sehingga manusia selalu dalam keadaan berselisih.
Dalam benak setan, hanya satu tujuannya, membuat manusia selalu dalam keadaan terpecah belah, dan selalu memperturutkan hawa nafsunya. Setan akan berbuat segala cara demi untuk memuluskan rencananya, yaitu menjadikan manusia pengikut setianya, untuk menemaninya di neraka jahanam kelak.
So ! Kalau pemerintah sudah menetapkan hari raya jatuh pada hari tertentu, mengapa kita harus mengambil hari yang berbeda ?
Apakah kita tidak percaya dengan pemerintah ? Padahal dalam menentukan hari "H", pemerintah sudah mengumpulkan para tokoh agama yang ada, apakah hal itu masih belum cukup ?
Apakah kita masih mengikuti hawa nafsu ?
Apakah kita masih mengikuti ego kita ?
Apakah kita .... ?