Trip report Bandung - Madiun P.P.
Oh ya temen-temen, kali ini aku akan melaporkan hasil perjalananku bersama keluarga ke Madiun Jawa timur, dalam rangka menengok orang tua yang sedang sakit.
Awalnya aku mendapatkan berita, bahwa aku harus segera pulang, karena ibu sakit keras. Tanpa ba bi bu dengan persiapan seadanya saya sekeluarga langsung berangkat.
Tadinya menggunakan satu mobil innova, tapi lantaran yang ikut 9 orang, akhirnya diputuskan berangkat dengan 2 mobil, yaitu innova dan avansa. Untungnya ada saudara yang punya mertua di Bandung, dan kebetulan mobil avansanya nggak dipakai, jadi ya langsung saya bawa.
Dari persiapan berangkat jam 1 malam, dengan berbagai macam kendala, akhirnya kami berangkat dari Cimuncang Bandung sekitar jam 3 pagi.
Kami langsung meluncur ke arah terminal Cicaheum, lanjut ke Ujung Berung, Cibiru, Cileunyi, Rancaekek, Nagreg, Limbangan, Malangbong, Gentong, Ciawi lalu istirahat sekalian sholat Subuh di Masjid yang di bangun oleh mendiang Edi Sud dan Itje Trisnawati, atau yang lebih terkenal dengan nama Masjid Itje. Yang terletak di jalan sebelum masuk persimpangan jalan Rajapolah dan Cihaurbeuti.
Selesai sholat dan istirahat sejenak, perjalanan kami lanjutkan lagi melalui jalur Rajapolah, Cihaurbeuti, Ciamis dan Banjar. Di Banjar kami bertemu dengan mobil kedua yang dikemudikan oleh kakak saya, karena sesuai dengan perjanjian sebelum berangkat, kita akan bertemu dan isitrahat di Pom bensin Banjar.
Tadinya aku bertanya dalam hati, lhoo .. kok mobil innovanya nggak ada ?, jangan-jangan kakakku lupa tempatnya, eehh .. nggak tahunya tidak berapa lama dia muncul di belakang saya. Padahal dia berangkatnya lebih duluan daripada saya, Lalu saya tanya, "Kemana aja kak ?", kataku, lalu dijawab bahwa dia telah kesasar kearah Pesantren Suryalaya.
Ternyata selepas turunan Gentong, masuk Ciawi dia belok ke kiri, bukannya lurus. Jadinya dia lewat jalan yang ke arah Pesantren Suryalaya, lalu Panjalu, belok kanan ke arah Kawali, belok kanan tembus Ciamis baru belok kiri lurus dan bertemu Banjar.
Seandainya waktu di Panjalu dia nggak belok kanan, tapi ngambil jalan yang lurus, pasti tambah jauh dia kesasarnya. Karena dia akan tembus ke Cikijing. He he .
Selepas Banjar, kami atur perjanjian akan bertemu lagi di Jogja, sekalian istirahat dan makan di Ring Road selatan.
Menyusuri jalan antara Banjar sampai Majenang, dari dulu sampai sekarang jalannya nggak pernah bagus. Jalanannya berliku dan bergelombang, ditambah tambalan aspalnya yang tidak rata menambah irama goyangan kendaraan semakin terasa, alias grathul-grathul. Seperti naik kapal yang sedang diterjang gelombang. Tapi lumayan, semua penumpang yang tadinya setengah sadar, jadi melotot semua. Mungkin karena daerahnya rawan longsor, jadi jalan rayanya sering amblas. Saya yakin temen-temen PU juga pusing, bagaimana caranya agar jalan antara Banjar - Majenang bisa mulus dilewati.
Masuk daerah Karang pucung, Lumbir sampai Wangon, jalanan masih berliku, tetapi aspalnya sudah agak sedikit mulus, sehingga kami semua agak merasa terbebas dari goyangan yang menggetarkan seluruh badan.
Selepas Wangon, menuju Rawalo dan Buntu, jalan lurus dan mulus mulai membuat para driver terlena, tak terasa kecepatan mobil sudah mendekati 120 Km/jam. Wuah .. bahaya bro, akhirnya saya lepas pedal gas dan kembali pada kecepata normal yaitu 60-70 Km/jam.
Lalu lintas antara Buntu sampai Kebumen lumayan padat, terutama truk-truk besar, sehingga sangat terasa, jalan yang tidak begitu lebar menjadi tambah kelihatan sempit. Sangat sulit untuk mendahului kendaraan besar di jalur ini, karena dari arah depan, kendaraan juga tidak kalah padatnya. Yang terjadi adalah iring-iringan kendaraan yang panjang selalu terlihat di jalur ini.
Masuk kota Kebumen, saya belok kanan masuk jalan ring road dan berhenti istirahat di Masjid .. aku lupa namanya, sekalian sholat Dhuhur dan 'Asar sekaligus. Biasa, jama' qosor. Selesai sholat terdengar suara cacing di dalam perut, wah .. ini tanda bahwa sudah waktunya untuk diisi.
Kebetulan, di depan Masjid ada ibu-ibu yang membuka warung. Tadinya saudara yang lain mengajak saya makan nasi soto yang ada di seberang jalan, tapi dalam hati saya bilang, kok rasanya kurang pantes, kita ikut istirahat dan sholat di Masjid ini, tapi pas giliran mau jajan, kok kita ke seberang. Padahal saya tahu suami ibu yang jualan itu, adalah yang suka membersihkan Masjid itu.
Biarpun saya sangat suka soto, saya sempatkan untuk bertanya kepada ibu warung itu, "Bu ada makanan apa ?", tanyaku, lalu ibu itu bilang, "Anu mas, ada nasi pecel".
Dalam keadaan normal, kalau disuruh memilih antara nasi soto dan nasi pecel, maka saya pasti akan memilih nasi soto. Tapi dalam hal ini, ada alasan lain yang membuat kenapa saya lebih memilih nasi pecel. Pertama saya menghormati suami ibu warung itu, yang dengan sukarela merawat dan membersihkan Masjid sehingga tetap terawat dan nyaman untuk beribadah.
Dalam hati, saya merasa, bapak ini telah berjalan di jalan Alloh, karena dia selalu menjaga kebersihan rumah Alloh, sehingga orang lain bisa beribadah dengan nyaman di dalamnya. Mengapa saya tidak ikut membantu bapak itu, dengan cara membeli makanan yang dijual oleh istrinya. Menurut saya, kita harus menjaga agar niat baik suami ibu warung itu tetap terjaga, tanpa dikotori oleh hal-hal yang bisa menyebabkan rasa iri, dengki atau hal semacamnya.
Tak lama kemudian, saudara-saudara yang tadinya makan nasi soto pada balik lagi, karena nasi sotonya kurang enak katanya. Dan akhirnya bersama-sama makan nasi pecel. Sambil makan saya melirik ke arah bakul tempat menyimpan sayur dan sambel pecel, terlihat sudah kosong, wah si ibu ini pasti senang bukan main, karena dagangannya habis terjual.
Saya sengaja menjaili ibu warung itu, "Bu .. tambah pecelnya !", si ibu langsung menyahut, "waduh .. sudah habis semua mas." katanya. Saya tak ingin berhenti, "Ibu ini bagaimana sih, masa saya masih ingin nambah kok malah pecelnya dihabisin ", "Nganu mas, soalnya kemarin sepi, jadi ibu hanya bikin sedikit " katanya. Dalam hati saya sungguh merasa senang, karena dengan adanya kami
makan nasi pecel, dagangan ibu warung tadi menjadi ludes tanpa sisa.
Setelah beberapa lama, kami melanjutkan perjalanan menuju Purworejo, Wates terus ke Jogja. Dasar kelakuan sopir indonesia, nggak boleh lihat jalan bagus, itu mobil innova yang dibawa kakak saya langsung melesat dan hilang dari pandangan mata. Saya tadinya akan mengejar, tapi langsung ingat, mobil ini mobil pinjaman, dan yang lebih penting, yang saya bawa ada 2 keluarga, jadi saya tetap menjaga kecepatan di batas aman yaitu 60-70 Km/jam. Dalam sekejap semua penumpang hilang dari peredaran, alias pada tidur pulas, terbuai mimpi makan nasi pecel.
Sampai Sentolo melewati jembatan kali Progo, di daerah Klangon saya belok kiri ke arah Gamplong Mayudan, kebetulan ada bulek di situ dekat lapangan bola, jadi mampir sekalian. Namun sayang, pas sampai depan rumahnya, pintunya tertutup rapat. Mau nanya ke tetangganya, keadaannya sami mawon, semuanya tertutup rapat. Mau di hubungi pakai HP percuma saja, lha wong bulik dan pak lik ini termasuk manusia yang mempertahankan adat orang jaman dahulu, yaitu pantang punya HP.
Gagal bertemu bu lik dan pak lik, langsung putar haluan menuju arah Godean tembus ke Ring Road Utara Jogja. Yang rencananya akan bertemu di Ring Road Selatan jadi batal. Keluar Ring Road di Maguwo atau Bandara Adi Sucipto. isi bensin, langsung tancap ke Solo lewat Prambanan, Klaten, Delanggu dan Kartosuro.
Lepas Solo tadinya saya mau lewat Karanganyar, Tawangmangu, Sarangan, Magetan dan Maospati, tapi karena hari sudah menjelang sore, saya putuskan belok kiri menuju Sragen, Mantingan, Walikukun, Ngawi langsung menuju Madiun.
Tepat Jam 10 malam, saya dan keluarga sampai di rumah mertua. Saya lihat rombongan yang naik innova sudah pada rapi dan wangi. rupanya dia sudah sampai satu jam lebih cepat. Yang penting semuanya selamat.
Sekian dulu laporan perjalanan dari Bandung ke Madiun.
Untuk laporan dari Madiun ke Bandung akan saya laporkan di lain hari.
Semoga bermanfaat.
Salam
Cah Dungus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar